Presidensi G20 Indonesia Momentum Wujudkan Pemberdayaan Perempuan

Presidensi G20 Indonesia 2022 menjadi momentum
mengadvokasi berbagai pihak untuk melakukan upaya mempercepat pengarusutamaan
gender, pemberdayaan perempuan, keterwakilan perempuan dan keberpihakan kepada
isu-isu perempuan.
Pernyataan tersebut disampaikan Deputi Bidang
Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Lenny N. Rosalin, dalam siaran pers
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), pada hari
Jum’at (24/6).
“Kementerian PPPA menggagas penyusunan policy note dengan tujuan untuk memberikan masukan pada enam isu yang telah diidentifikasi memiliki dampak besar bagi kesenjangan gender dan pemberdayaan perempuan,” kata Rosalin.
“Adapun keenam isu prioritas tersebut adalah ekonomi digital, kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, energi dan pendidikan,” sambungnya.
Ia menyampaikan bahwa ‘policy note’ ini akan
dirancang dengan ringkas, padat, namun komprehensif agar kedepannya dapat
menekan angka kesenjangan gender di berbagai bidang pembangunan dan dapat
membawa isu kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan bisa lebih optimal
dalam pembangunan nasional.
Sebelum menyusun policy note ini, Kementerian
PPPA akan berdialog bersama perwakilan enam working group, perwakilan dari
co-Sherpa serta sejumlah mitra pembangunan untuk meminta masukan.
“Dialog ini secara umum bertujuan untuk mendiskusikan perkembangan terakhir pembahasan pada masing-masing working group serta mendiskusikan langkah yang dapat ditempuh untuk mendorong integrasi isu kesetaraan gender dalam pembahasan di enam working group yang masuk dalam isu prioritas,” ujarnya.
“Saat ini, kami telah menyusun draft policy
note yang target-nya akan rampung sebelum Ministerial Conference on Women’s Empowerment
(MCWE) 2022 pada Agustus di Bali,” tambah Rosalin.
Lebih lanjut Ia menyebut, partisipasi aktif
dan komitmen Indonesia telah diakui oleh berbagai negara di dunia.
Oleh karena itu, G20 menjadi momentum yang tepat untuk menciptakan peluang membuka dialog dan berdiplomasi bersama-sama membangun kolaborasi dengan berbagai negara dalam mewujudkan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan hak perempuan, demikian Lenny N. Rosalin.
Dalam Presidensi G20 Indonesia tahun ini,
berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan oleh masing-masing Working
Group, Initiative EMPOWER dan berbagai Engagement Group terkait dengan berbagai
isu prioritas.
Namun, dalam prosesnya dialog dan diskusi yang
sudah berjalan masih menyisakan ruang untuk melakukan identifikasi kesenjangan
gender dan pemberdayaan perempuan pada isu-isu prioritas, serta
mengarusutamakan gender ke dalam pembahasan lanjutan di tingkat Kementerian
Negara-negara G20.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Lenny N Rosalin mengungkapkan Presidensi G20 Indonesia 2022 saat ini, menjadi momentum yang baik untuk terus mengadvokasi berbagai pihak dan kalangan, terutama masyarakat untuk bersama-sama melakukan berbagai upaya mempercepat pengarusutamaan gender, pemberdayaan perempuan, keterwakilan perempuan, dan keberpihakan kepada isu-isu perempuan lainnya.
“Berdasarkan hal tersebut KemenPPPA sebagai
Kementerian pengampu pemberdayaan perempuan sekaligus menginisiasi penyusunan
policy note dengan tujuan untuk memberikan masukan pada enam (6) isu yang telah
diidentifikasi memiliki dampak besar bagi kesenjangan gender dan pemberdayaan
perempuan. Adapun keenam isu prioritas tersebut adalah ekonomi digital,
kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, energi, dan pendidikan,” ujar
Lenny dalam FGD Penyusunan Policy Note untuk Rekomendasi Ministerial Meetings
Presidensi G20 tahun 2022.
Lenny mengatakan bahwa policy note ini akan
dirancang dengan ringkas, padat namun komprehensif agar ke depannya dapat
menekan angka kesenjangan gender di berbagai bidang pembangunan dan dapat
membawa isu kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan bisa lebih optimal
dalam sektor pembangunan nasional. Tentunya sebelum melakukan penyusunan policy
note ini, KemenPPPA membutuhkan masukan dengan berdialog bersama perwakilan
enam (6) kelompok kerja (working group), perwakilan dari co-Sherpa, serta
sejumlah mitra pembangunan.
“Dialog ini secara umum bertujuan untuk
mendiskusikan perkembangan terakhir pembahasan pada masing-masing working group
serta mendiskusikan langkah yang dapat ditempuh untuk mendorong integrasi isu
kesetaraan gender dalam pembahasan di enam working group yang masuk dalam isu
prioritas. Saat ini, kami telah menyusun draft policy note yang targetnya akan
rampung sebelum Ministerial Conference on Women’s Empowerment (MCWE) 2022 pada
Agustus, di Bali. Pada kesempatan ini kami juga meminta dukungan dan komitmen
dari masing-masing working group untuk dapat memberikan masukan dalam
penyusunan policy noteagar dapat selesai sesuai dengan yang kami harapkan,”
ujar Lenny.
Komentar
Posting Komentar